LISAH KALAPA VCO

"virgin coconut oil - natural and healthiest oil on earth"

Sunday, September 11, 2005
Indonesia, Land of Coconut, Land of VCO
bagian III.
Seluk beluk standard VCO.

Pada bagian ketiga ini akan membahas mengenai seluk beluk standar mutu VCO.

Standard, menurut kamus yang penulis pegang, kurang lebih berarti:


Standard,
kb. 1 standar. 2 ukuran, norma, patokan. 3 (flag) panji.
4 martabat,
watak, moral. 5 tiang, kap (for a lamp).
6 tingkat, taraf. 7 ukuran
dasar (of length).



Jadi kurang lebihnya berarti patokan atau norma norma dasar yang menyangkut suatu hal. Dalam hal ini kita sedang membicarakan VCO.

Disini masalah mulai muncul, setelah muncul sekian banyak produsen VCO di Indonesia, demikian menjamurnya produk produk VCO karena promosi kesehatan yang dikandungnya, sampai saat ini pemerintah kita (melalui SNI, Standar Nasional Indonesia) belum memiliki sebuah standar mutu yang menetapkan apa dan bagaimana VCO harus di buat, serta norma norma apa saja yang melingkupi produk tersebut.
Seperti biasa pemerintah kita (selalu) terlambat meskipun tanda tanda ke arah pembuatan standard sudah mulai tercium.

Mati segan, hidup tak mau.

Saat semua orang (termasuk kami) sepertinya ingin mencoba membuat minyak dara, kemudian mencoba menjualnya, sebuah standar yang mengikat norma norma dasar sangat dibutuhkan, yang dikhawatirkan adalah apabila norma norma tersebut tidak ada, akan muncul (sebetulnya sudah) produk produk yang tidak dapat di pertanggung jawabkan dan merugikan konsumen, baik si produsen sadar atau tidak. Asal di proses dari kelapa, dan dihasilkan minyak kemudian dapat di beri label VCO.
Tentu kita tidak ingin nasib minyak perawan (dan para petani kelapa) berakhir dan berulang seperti yang pernah terjadi pada nata-de-coco. Mati segan, hidup tak mau.

Apapun, seorang bijak pernah berkata "Jangan memaki maki dalam gelap, nyalakan lilin!". Petuah itu terasa pas dengan kondisi kita sekarang. Dan karena teringat akan petuah tersebut penulis mencoba mencari resources mengenai standar VCO.

Salah dua standar yang cukup komprehensif adalah standar dari APCC (Asian and Pacific Coconut Community), sebuah organisasi antar pemerintah di negara negara Asia Pasifik dimana Indonesia menjadi anggotanya dan standar yang baru saja dikeluarkan oleh PNS (Philippine National Standards) berkode PNS/BAFPS NO. 22: 2004 yang telah di usulkan sejak tahun lalu dan baru saja disahkan pada September 2005 ini.

Standar Internasional dan Negara Produsen VCO

Standar baku mutu yang dikeluarkan oleh APCC untuk minyak kelapa murni adalah sebagai berikut:


Interim APCC Standard

Identity Characteristics

Relative density
Refractive index at 40oC
Moisture % wt. max.
Insoluble impurities per cent by mass max.
Saponification Value
Iodine value
Unsaponifiable matter % by mass. max.
Specific gravity at 30 deg./ 30 deg. C
Acid Value max.
Polenske Value min.

GLC Ranges of Fatty Acid Composition (%)

C 6:0 – Caproic Acid
C 8:0 – Caprylic Acid
C 10:0 – Capric Acid
C 12:0 – Lauric Acid
C 14:0 – Myristic Acid
C 16:0 – Palmitic Acid
C 18:0 – Palmitoleic Acid
C 18:1 – Stearic Acid
C 18:2 – Oleic Acid
C 18:3 – C 24:1

Quality Characteristics

Colour
Free Fatty Acid
Peroxide Value
Total Plate Count

Odour and Taste

Contaminants

Matter volatile at 105oC
Iron: (Fe)
Copper
Lead
Arsenic

0.915 - 0.920
1.4480 - 1.4492
0.1 - 0.5
0.05
250 - 260 min
4.1 - 11.00
0.2 - 0.5
0.915 - 0.920
0.5
13


0.4 - 0.6
5.0 - 10.0
4.5 - 8.0
43.0 - 53.0
16.0 - 21.0
7.5 - 10.0
2.0 - 4.0
5.0 - 10.0
1.0 - 2.5
<>


water clean
[ 0.5%
[ 3 meq/kg oil
<>

Free from foreign and rancid odour and taste


0.2 %
5 mg/kg
0.4 mg/kg
0.1 mg/kg
0.1 mg/kg


Penulis rasa standar yang dikeluarkan oleh APCC ini sudah sangat cukup untuk dijadikan panduan standar mutu VCO.

Sedangkan untuk proses pembuatan, APCC hanya menyatakan:

Coconut oil is derived from the kernel/meal/copra of the coconut (Cocos nucifera L.). Virgin coconut oil is obtained from the fresh and mature kernel of coconut by mechanical or natural means with or without the application of heat, which does not lead to alteration of the oil. Virgin coconut oil is suitable for human consumption in its natural state.


Jadi definisi VCO menurut APCC tidak memperdulikan apakah minyak yang diperoleh melalui proses pemanasan atau tidak. Yang penting adalah minyak dihasilkan dari daging kelapa segar dan berasal dari kelapa yang matang, di proses dengan cara mekanis dan se natural mungkin, sehingga tidak membuat minyak yang dihasilkan berubah. Agak kurang jelas memang definisi 'berubah' itu sendiri.

Sedangkan standar yang dibuat oleh Philippine agak lebih detail, tapi perbedaan definisi hanya sedikit, PNS memperjelas bahwa VCO tidak dihasilkan melalui proses kimia RDB (refining, deodorizing dan bleaching). Pada standar mutu, PNS dan APCC menetapkan kandungan mutu dari VCO yang tidak jauh berbeda sedangkan standar kebersihan yang sedikit berbeda.
APCC mengacu pada standar HACC (Hazard Analysis Critical Control Point) dan GMP (Good Manufacturing Practices), sedangkan PNS mengacu pada Codex Alimentarius Commission (CAC/RCP 1-1969, Rev, 3-1997).

Selain itu PNS juga menetapkan petunjuk untuk labelling produk VCO, bahwa dalam label harus tercantum:
  1. Nama produk "Virgin Coconut Oil"
  2. Merek dagang
  3. Isi bersih
  4. Identifikasi produksi (lot number)
  5. Nama dan alamat produsen atau distributor
  6. Frase dari negara pembuat, dalam hal ini Philippines
  7. Tipe proses pengolahan
  8. Tanggal pembuatan dan Best Before
  9. Registrasi Badan yang berwenang dan kode batang (bar code, fakultatif).
-EOF

Indonesia, Land of Coconut, Land of VCO
bagian II.
Produk buatan anak nagri.

Pada bagian kedua ini dipaparkan hasil pencarian data dari situs situs yang mempromosikan dan mengiklankan VCO. Sebetulnya penulis agak ragu menampilkan hasil pencarian data tersebut di situs publik seperti ini, hal ini disebabkan ada sentilan dari seorang rekan yang berkata. "Whoi, nanti pemerentah bakalan gampang kalo ada 'sweeping' jika data data perusahaan yang jualan minyak ditampilin". Seperti kita ketahui bersama, ehem, banyak produsen yang tidak (belum) memiliki izin produksi, pendistribusian maupun penjualan minyak perawan dari dinas dan badan resmi terkait, termasuk, ehem, Lisah Kalapa.
Tapi penulis berkilah, data data yang penulis tampilkan akan dengan mudah di dapatkan di Internet dengan sekali dua kali klik, dan oleh karenanya, menurut penulis, alasan yang dikemukakan rekan tersebut tidak berdasar, dasar keukeuh, kalo kata orang Sunda sih.

Lagipula, faktanya memang begitu kan ? Di sekitar kita banyak beredar minyak perawan yang belum memiliki izin, atau bila-pun memiliki izin, tidak sesuai peruntukannya. Cerita mengenai izin dan birokrasi di seputar minyak dara akan penulis sampaikan pada bagian selanjutnya.
Jadi, penulis tetap bersikeras memaparkan hasil pencarian data di Internet selama sekitar 2 jam. Tujuan penulis menampilkan data data tersebut adalah:
  1. Selain sebagai daftar kompetitior (whoa), juga untuk mempermudah dan menginformasikan pada para pembaca sekalian sebagai (calon) konsumen VCO untuk memilih produk produk yang ada.
  2. Penulis agak mengalami insmonia setelah meminum minyak dara (padahal tidak teratur). Sehingga daripada ngeluyur ngga karuan, lebih baik menarikan jari diatas tuts keyboard :).
Nah, karena waktu pencarian pun hanya sebentar, tentu data yang penulis dapat juga tidak banyak, penulis membatasi pencarian pada situs perdagangan online yang cukup besar di Indonesia saja, Indonetwork, ditambah beberapa data dari situs lain yang sempat penulis temukan.

Hasil pencarian dari situs Indonetwork dengan kata kunci "VCO" menghasilkan 40 Penawaran Dagang, 37 daftar produk dan 25 Daftar Perusahaan. Sebagian dari perusahaan (maupun perorangan) yang menawarkan VCO tersebut, penulis tampilkan pada sidebar situs ini.

Ada hasil statistik (kalo bisa disebut statistik) yang cukup menarik. Penulis sengaja menampilkan data perusahaan bersama dengan lokasi dan cara pemprosesan yang dilakukan. Seperti diketahui, menurut standard dan kepatutan, sebaiknya (bahkan seharusnya) para produsen menampilkan cara cara pemprosesan produk minyak dara yang dijual.
Pembahasan mengenai standard ini juga akan penulis coba paparkan, dengan segala keterbatasan yang dimiliki penulis, pada bagian ketiga artikel ini.

Hasil tersebut adalah kota kota tempat dimana VCO banyak di produksi. Walaupun begitu, sekali lagi statistik ini iseng belaka, banyak hal subjektif yang tentu saja dapat membuat data data ini menjadi obsolete.
  1. Lokasi yang terdata kebanyakan menampilkan kota kota besar, yang tentu saja sebagian besar penduduknya cukup internet literated sehingga dapat memiliki atau membuat situs web, atau mengiklankan produknya di Internet. Hal ini bukan berarti kota kota kecil tidak ikut memproduksi VCO.
  2. Penulis kesulitan menyaring apakah perusahaan tersebut betul betul produsen atau trader.
  3. Penulis dengan segala keterbatasannya hanya mampu menuliskan beberapa perusahaan saja yang penulis temukan (it's 3:20 am anyways, ngantuk man!). Tentu masih banyak company lain yang belum tercatat, dan menjadi tugas anda untuk memberitahukannya pada kami :).
  4. Alasan alasan lain yang penulis belum terpikirkan :)
Apapun, survey singkat membuktikan ranking kota yang menjadi produsen VCO adalah, (sebetulnya ini bukan pekerjaan penulis, data ini harusnya dikeluarkan BPS, atau bahkan kuis Famili 100).

  • Yogyakarta 9 institusi
  • Bandung 6 institusi (tambah Lisah Kalapa jadi 7)
  • Jakarta 6
  • Surabaya 2
  • Semarang 4
  • Banten 2
  • Makassar 2
  • Sidoarjo 2
Medan, Mentawai, Madiun, Wamena, Bekasi, Pontianak, Bali, Mataram, Solo, Pariaman, dan Pakanbaru masing masing 1 institusi.

Sehingga total data yang penulis pilih dan tampilkan di situs ini berjumlah 44 institusi. Sayang penulis tidak sempat mendata jumlah produksi yang mampu di keluarkan oleh masing masing institusi, lagipula seperti telah disinggung diatas, ada badan yang lebih kompeten menangani hal tersebut :).

Yang menarik adalah, Bandung (yang tentu saja tidak banyak memiliki pohon kelapa) ternyata masuk di peringkat ke-2. Hal ini penulis rasa dapat terjadi karena selain alasan yang sudah dikemukakan penulis diatas, Bandung berdekatan dengan sentra sentra kelapa seperti Ciamis, Garut dan Tasikmalaya. Anehnya kota kota tersebut tidak muncul dalam statistik. Sehingga penulis menarik kesimpulan bahwa produsen (atau trader) di Bandung mendapatkan bahan kelapa dari daerah remote kemudian dibawa dan di produksi di Bandung, atau produksi dilakukan di remote area, dan package serta bottling dilakukan di Bandung (seperti yang Lisah Kalapa lakukan).

Hal sama juga rasanya terjadi di Jakarta dan Surabaya, dimana lahan sudah sempit, dan kelapa tidak banyak ditanam meskipun kedua daerah tersebut berdekatan dengan pantai.

Yogyakarta menjadi pemenang dapat dimaklumi, karena pada awalnya angin VCO ini berhembus dari kota Gudeg tersebut (halo pak Bambang Setiaji). Selain tentu saja Yogyakarta cukup kaya dengan kelapa dan berdekatan dengan sentra pohon berjenis palem tersebut. Selamat untuk Yogyakarta :).

Kesimpulan ini tentu berdasar data data yang penulis kumpulkan dari Internet pada 11 September 2005, sedangkan mengenai produsen yang tidak mengiklankan produknya melalui media jejaring maya rasanya akan lebih banyak dan yang penulis dapatkan hanya ujung piramid-nya saja (btw, apa bentuknya piramid, penulis juga tidak bisa memastikan). Untuk itu semuanya berpulang pada sidang pembaca sekalian.

Apabila pembaca memiliki link ke situs produsen VCO yang belum tercantum, dapat menginformasikan pada kami dengan mengirimkan pada kolom komentar di bawah ini.

-EOF

Indonesia, Land of Coconut, Land of VCO
bagian I.

Ya, Virgin Coconut Oil memang sedang naik daun tahun 2004/2005 ini. Hal tersebut dibuktikan dengan menjamurnya situs situs web yang mempromosikan dan memuat informasi mengenai VCO (termasuk situs ini :) ). Penulis iseng melakukan pengumpulan data kecil kecilan mengenai situs web Indonesia yang menyinggung dan meng-iklankan VCO. Pencarian data ini dilakukan (tentu saja) atas bantuan mesin pencari favorit penulis, google, dan mesin mesin pencari yang ada pada situs situs media masa online.

Pada bagian pertama ini dipaparkan hasil pencarian data dari situs situs media.

Dari situs media, kelihatannya yang paling aktif menulis mengenai si minyak perawan adalah harian KOMPAS. Tapi mohon maaf, pendapat penulis ini subyektif berdasarkan beberapa hal.
  1. Kemampuan browsing penulis yang pas-pasan, sehingga banyak situs yang tidak berhasil ditemukan.
  2. Mesin pencari di situs situs media yang dikunjungi penulis kurang canggih :). Bahkan di situs Pikiran Rakyat penulis tidak berhasil menemukan link ke mesin pencari-nya.
  3. Sistem data di situs media yang belum tertata dengan baik sehingga banyak data yang belum tersimpan secara online.
  4. Alasan alasan lain yang membuat penulis tidak dapat menemukan data yang di cari :)
Apapun, skor sementara hasil pencarian data yang bersumber dari media pada 11 September 2005 menghasilkan:

KOMPAS 11 artikel
KONTAN 3 artikel
Republika 2 artikel
Pikiran Rakyat 1 artikel
Liputan 6 SCTV 1 artikel
Media Indonesia 0 artikel

Link terkait dari media media tersebut penulis masukkan pada sidebar situs Lisah Kalapa.

Apabila anda memiliki link link terkait mengenai VCO di Indonesia, khususnya pemberitaan di media massa yang belum tercantum di situs ini, dapat menginformasikannya pada kami dengan memberikan daftar situs pada kolom komentar di bawah ini.

-EOF

Monday, September 05, 2005

Hainuwele, Sang Putri Kelapa
Sebuah cerita rakyat dari pulau Seram, kepulauan Maluku.

Alkisah pada suatu hari seorang dewa bernama Ameta sedang berburu dan menemukan babi hutan. Mencoba untuk melarikan diri, babi hutan tersebut tercebur ke dalam sebuah danau dan mati. Pada taringnya Ameta menemukan sebutir biji yang dikemudian hari dikenal bernama kelapa. Pada saat itu kelapa sama sekali tidak dikenal dan belum pernah terlihat di sekitar pulau Seram dimana Ameta tinggal. Tanpa berpikir panjang, diboyonglah kelapa itu pulang ke rumahnya. Malamnya, Ameta bermimpi didatangi oleh sesosok manusia yang menyuruhnya untuk menanam biji kelapa tersebut. Ameta serta merta segera melakukan apa yang diperintahkan dalam mimpinya itu, dan ajaib, hanya dalam tiga hari saja pohon kelapa tumbuh subur dan tinggi menjulang serta mulai berbunga. Ameta segera memanjat pohon kelapa itu untuk memetik bunganya, namun malang, pada saat memotong, jari Ameta tergores dan darahnya menetes jatuh di kumpulan bunga kelapa.

Tepat sembilan hari kemudian, di tempat darah itu menetes, Ameta menemukan seorang gadis cilik yang kemudian diberi nama Hainuwele, yang berarti Putri Kelapa. Ameta membalut sang gadis kecil dengan daun kelapa dan membawanya pulang. Ajaib, dalam tiga hari, Hainuwele cilik sudah berubah menajadi gadis dewasa yang sangat rupawan. Sang Putri ini memiliki keistimewaan yang sungguh ajaib namun kurang menyenangkan. Keistimewaan itu adalah setiap sang Putri menunaikan hajat kecilnya, yang dikeluarkan adalah barang barang yang sangat berharga. Dan Ameta pun menjadi kaya raya karenanya.

Pada suatu hari, Hainuwele hadir di sebuah pesta tari rakyat di desa tersebut yang secara tradisional menjadi ajang seorang gadis untuk memberikan biji kacang kepada para pemuda. Hainuwele mengikuti acara tersebut, akan tetapi ketika diminta oleh para pemuda, yang diberikan adalah barang barang berharga tadi. Setiap hari Hainuwele membagikan barang barang tersebut, yang semakin hari semakin mahal dan semakin banyak, ada giwang emas, batu koral beraneka warna, piring porselin yang indah, pisau, kotak kotak tembaga, dan bahkan sebuah gong yang megah. Namun masyarakat desa tersebut menilai bahwa apa yang mampu dilakukan oleh Hainuwele adalah sesuatu hal yang menyeramkan dan berbau sihir jahat. Oleh karena itu, mereka merencanakan untuk membunuh Hainuwele.

Sebuah liang kubur pun digali di tengah tengah arena dansa, dan manakala Hainuwele melintas di dekatnya, bersama sama mereka mendorong Hainuwele masuk ke dalam lubang tersebut, segera menutupnya dengan tanah dan menari di atasnya sehingga tanahnya menjadi padat. Hainuwele pun terkubur hidup hidup.

Keesokan paginya, Ameta yang tidak mengetahui kemana perginya Hainuwele merasa sangat kehilangan dan pergi mencari. Segera setelah Ameta mengetahui apa yang telah terjadi, Ameta dengan hati pedih menggali liang kubur dan mengangkat jasad Hainuwele dari dalam kubur tersebut, memotong motong tubuh Hainuwele menjadi bagian kecil dan menguburkannya di sekeliling pulau tersebut kecuali sepotong tangannya. Di kemudian hari bagian tubuh Hainuwele yang terkubur tersebut tumbuh menjadi tanaman yang menjadi bahan pangan utama yang sejak hari itu dinikmati masyarakat Indonesia. Ameta membawa potongan tangan tersebut ke dewa lainnya bernama Satene. Satene kemudian menggambar sembilan lingkaran di tanah bekas kuburan Hainuwele dan berdiri tepat di tengahnya, sementara potongan tangan Hainuwele dibentuk menyerupai sebuah pintu. Satene kemudian mengumpulkan para penari dan berujar, “Karena kamu telah dibunuh, Saya tidak akan tinggal di sini lagi. Saya akan segera meninggalkan tempat ini. Sekarang kamu dapat ikut dengan saya melalui pintu ini.” Para penduduk yang mengikuti Satene melalui pintu tersebut tetap menjadi manusia, sedangkan sisanya yang menolak ikut berubah menjadi berbagai macam hewan dan roh yang menghuni daerah tersebut. Satene berkata bahwa sejak kepergiannya, manusia hanya dapat menemuinya setelah mereka mati. Kemudian Satene pun lenyap dari muka bumi.

Pustaka:

  • M.Eliade, Myth and Reality (New York, 1963), pp 104-5; translated and abridged from A.E. Jensen, Das religiose Weltbild einer fruhen Kultur (Stuttgart, 1948) pp.35-8
  • Campbell, Joseph, The Masks of God : Primitive Mythology 1959.Jensen, A.E. and Herman
  • Niggemeyer, Hainuwele ; Völkserzählungen von der Molukken-Insel Ceram (Ergebnisse der Frobenius-Expedition vol. I), Frankfurt-am-Main 1939

Pohon Kelapa – Asal usul dan Sejarah.
Terjemahan bebas “What is the history of coconut in cultures?”
http://food.oregonstate.edu/faq/plant/coconut3.html

Pohon tinggi berjenis palem ini telah di budidayakan sejak jaman dahulu kala, disebarkan secara luas oleh ras manusia, dan bersamaan dengan itu telah secara alamiah tumbuh di tepi tepi pantai tropis sehingga asal muasal dari tanaman ini menjadi kabur dan hilang ditelan jaman. Beberapa orang sempat percaya (sekarang kepercayaan tersebut telah cemar), bahwa kelapa berasal dari Amerika. Colombus tidak menemukannya, dan beberapa penulis Spanyol dari Dunia Baru sama sekali tidak menyinggung mengenai tanaman ini. Meskipun demikian, beberapa abad setelah Colombus, pohon palem yang berharga ini tiba di Puerto Rico. Joseph de Acosta (1539-1600), seorang misionaris kristen asal Peru, Amerika Latin pada 1571 sampai 1587 menuliskan dalam bukunya yang terkenal Historia Naturaly Moral de las Indias yang di publikasikan pada 1590 setelah kepulangannya ke Spanyol menyatakan bahwa dia menyaksikan pohon kelapa tumbuh di Puerto Rico. Petualang Spanyol lainnya di Puerto Rico pada tahun 1599 menyebutkan bahwa Coconut Milk (santan) digunakan sebagai kosmetik untuk wanita wanita disana. Bagaimanapun, di beberapa daerah Antilles lain (kepulauan Karibia, termasuk Kuba, Jamaika, dan Hispanola), kelapa sama sekali tidak disinggung singgung sampai beberapa abad kemudian.

Catatan dari Oviedo, ibu kota dari Asturias, sebuah propinsi otonom di Spanyol Utara pada 1526 menyinggung mengenai tanaman besar yang berdiri tegak yang terlihat sebagai tanaman lokal yang tumbuh di pesisir Pasifik sekitar Burica Point, Costa Rica dan Panama. (Common Trees of Puerto Rico, Handbook 249, Little and Wadswoirth, Forest Service, U.S Department of Agriculture, 1964).

Augustin Pyrame de Candolle, seorang botanis dari Swiss pada bukunya berjudul The Origin of Cultivated Plants (1882 – 1886) menyatakan: “Jelas terlihat bahwa spesies ini bukan berasal dari Afrika maupun dari bagian tropis Amerika sebelah timur. Dengan menyisihkan negara negara tersebut, maka kemungkinannya tinggal bagian tropis Amerika sebelah barat, kepulauan Pasifik, Asia Tenggara (Indian Archipelago) dan daerah Asia Selatan dimana pada daerah daerah tersebut, pohon kelapa terlihat berlimpah, tumbuh secara luas dan telah lama ada.

Penjelajah Inggris, William Dampier (1652 – 1715) dan George Vancouver (1757 – 1798) pada awal abad ke tujuhbelas pada bukunya masing masing menceritakan bahwa mereka menemukan hutan kelapa di sebuah pulau dekat Panama dan di sebuah pulau misterius yang dinamakan Isle of Cocos. Pada saat itu kedua pulau tersebut tidak berpenghuni. Belakangan pohon kelapa ditemukan juga di sepanjang pantai barat, mulai dari Mexico sampai Peru, akan tetapi biasanya para penulis tersebut tidak menyinggung apakah tanaman tersebut liar atau tidak, kecuali Seemann yang menyebutkan bahwa dia menyaksikan tanaman ini berkembang secara alamiah dan di budidayakan di Isthmus of Panama. Menurut Hernandez pada abad ke enambelas orang orang Meksiko menyebutnya Coyolli, sebuah kata yang kedengarannnya bukan kata asli Meksiko. (Origin of Cultivated Plants, DeCandolle, 1886)

Di Asia Selatan, terutama di daerah kepulauan, kelapa adalah tanaman yang tumbuh di alam secara natural tapi juga di budidayakan. Semakin kecil dan rendah pulau tersebut sehingga makin mudah terkena terpaan air laut maka pohon kelapa semakin menonjol dan menarik perhatian para petualang. Kemunculan kelapa seiring dengan kondisi kehidupan alam bebas jaman dahulu di Asia dan Amerika bagian Barat semakin tidak jelas (Origin of Cultivated Plants, DeCandolle, 1886).

Setelah melakukan diskusi panjang berdasarkan fakta fakta yang ada menunjukkan bahwa pohon kelapa yang dibawa ke Cina berasal dari Asia Tenggara. Kemudian sampai di Sri Lanka dan India sekitar tiga sampai empat ribu tahun yang lalu, yang mana sebelumnya muncul di Amerika dan Afrika. Ahli ahli yang lain sepakat pada pernyataan tersebut.

Wednesday, August 31, 2005
Lisah Kalapa VCO.

"natural and healthiest oil on earth"

Selamat datang di situs web Lisah Kalapa.

Lisah Kalapa VCO (Virgin Coconut Oil) adalah produk minyak kelapa murni yang dihasilkan dari kelapa segar dan terpilih berasal dari kebun kelapa di Jawa Barat Selatan yang di ekstrak dengan menggunakan teknik pemerasan santan secara tradisional, proses fermentasi serta teknik penyaringan bertingkat untuk memperoleh minyak berkualitas baik.

Ekstrasi minyak kelapa murni Lisah Kalapa dilakukan tanpa menggunakan pemanasan buatan, tanpa bahan kimia, pemutihan atau penghilangan aroma (RDB - refining, deodorizing, bleaching) seperti lazimnya yang dilakukan di industri minyak komersial yang menyebabkan struktur minyak berubah dan tidak natural.

Lisah Kalapa VCO adalah minyak natural dan menyehatkan yang dapat di konsumsi secara langsung tanpa melakukan proses lebih lanjut.

Di situs ini kami akan mencoba membahas berbagai hal mengenai kelapa serta menjelaskan mengenai pemprosesan yang kami lakukan untuk mendapatkan minyak kelapa murni. Semoga dapat bermanfaat untuk anda semua.

Terima kasih telah mengunjungi situs web ini.

Salam.

Lisah Kalapa VCO